Anggota Komisi I DPR Tak Tinggal Diam KKB Papua Semakin Brutal, Ungkap Ide ini untuk Menumpasnya

by Redaksi

Anggota Komisi I DPR RI Dave Akbarshah Fikarno tak tinggal diam melihat KKB Papua semakin brutal. Dave pun mengusulkan ide supaya KKB Papua bisa teratasi, yakni mendirikan markas militer permanen di Papua

Menurut Dave, satuan tugas (satgas) keamanan yang bersifat sementara tidak efektif meredam kebrutalan KKB Papua. “Saya terus mendorong untuk dibentuknya markas-markas militer yang bersifat permanen, pembentukan Kodam baru, Kodim dan Koramil,” tutur Dave dalam diskusi bertajuk KKB Papua Kembali Berulah Di Mana Kehadiran Negara di kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Seperti dilansir dari Kompas.com dalam artikel ‘Anggota Komisi I Usul Pemerintah Dirikan Markas Militer Baru untuk Selesaikan Konflik di Papua’. Ia menilai, keberadaan satgas keamanan yang memiliki masa tugas rata-rata 6 bulan sampai 1 tahun tak bisa melakukan pendekatan kultural dan emosional secara optimal.

Maka, Dave mengusulkan agar markas militer permanen segera dibentuk di berbagai wilayah Papua. “Sehingga (dapat) menjalin komunikasi intens dengan warga setempat, terbentuk ikatan batin, sehingga saling memperkuat dan terus membangun kecintaan pada NKRI kedepannya,” paparnya. Di sisi lain, Dave berpandangan upaya pemerintah membentuk provinsi baru di Papua mesti didukung.

Sebab, pemekaran wilayah bertujuan untuk pemerataan pembangunan di wilayah tersebut. “Ini penting untuk terus kita dukung, agar penyerataan pembangunan terus berjalan, penyerataan akses pendidikan berjalan (dengan) membentuk sekolah-sekolah baru,” katanya. “Sekolah-sekolah vokasional sehingga ada masyarakat Papua yang ready untuk langsung masuk ke dunia kerja,” jelas dia.

Dave menuturkan, upaya ini penting untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan kesenjangan di Papua yang menjadi salah satu penyebab konflik keamanan. Pasalnya, lanjut dia, seperempat warga di provinsi Papua dan Papua Barat hidup dalam kemiskinan dan tingkat literasi yang rendah.

“Inilah salah satu alasan kenapa masih terjadi konflik-konflik yang mengakibatkan pertempuran atau pembunuhan,” pungkasnya. Penyebab KKB Papua Semakin Brutal Sementara itu, anggota komisi I DPR lainnya, Dave Laksono, membeberkan penyebab KKB Papua semakin brutal melakukan aksi teror. Hal ini diungkapkan Dave saat menanggapi kebrutalan KKB Papua membantai 11 warga sipil di Nduga.

“Perlu ada sikap tegas dari aparat keamanan terhadap mereka yang selalu bersembunyi di antara masyarakat umum setelah menyerang mereka yang tidak bersalah,” kata Dave, melansir dari Tribunnews dalam artikel ‘Anggota Komisi I DPR Minta Aparat Keamanan Tindak Tegas KKB Papua’.

Dave mengakui gerakan KKB Papua ini bakal tetap ada selama masih terjadi ketimpangan dalam akses ekonomi dan kue pembangunan di Papua. Meski pemerintah telah melakukan berbagai upaya mengatasi ketimpangan-ketimpangan tersebut, satu di antaranya melalui pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Papua. “Penembakan ini menunjukkan bahwa gerombolan teroris di Papua masih ada, dan selama masih ada ketidakmerataan dalam akses ekonomi dan kue pembangunan di Papua gerakan ini masih tetap hidup,” ucapnya.

“Papua ini adalah provinsi dengan rakyat miskin tertinggi, tingkat literasi masih sangat rendah, pemerataan akan pembangunan masih terbatas di kota-kota besar. Selama hal ini berjalan terus, konflik akan terus berjalan,” tandasnya. Pendeta Ditembak Mati

Sebelumnya, Seorang pendeta bernama Eliaser Baner dan sembilan warga Kampung Nanggolait, Kabupaten Nduga, Papua dibantai oleh KKB Papua pimpinan Egianus Kogoya. Mereka ditembak mati. Sedangkan dua warga lainnya dikabarkan mengalami kritis dan sedang dirawat di rumah sakit.

“Korban meninggal dunia maupun luka-luka sore ini akan dievakuasi oleh TNI-Polri ke Kabupaten Mimika. Kapolres Mimika juga telah menyiapkan ambulance untuk melakukan penjemputan,” kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal di Jayapura, Sabtu sore.

Para korban dievakuasi menggunakan helikopter milik Polri dan TNI Angkatan Udara, serta pesawat Rimbun Air.

Berikut identitas 10 korban meninggal dunia yang dihimpun Tribun-Papua.com (grup SURYA.co.id):

  1. Yulius Watu, laki-laki, usia 23 tahun, swasta, suku NTT
  2. Hubertus Goti, laki- laki, usia 23 tahun, swasta, suku NTT
  3. Daeng Marannu, laki-Laki, usia 42 tahun, swasta, suku Selayar
  4. Taufah Amir, laki-laki, usia 42 tahun, swasta, suku Selayar
  5. Johan, laki-laki, usia 26 tahun, swasta, suku NTT, Kabupaten Manggarai
  6. Alex, laki-laki, usia 45 tahun, swasta, suku Kei-Ambon
    Iklan untuk Anda: Seluruh Indonesia kaget! Diabetes mudah diobati (lihat di sini)
    Advertisement by
  7. Eliaser Baner, Pendeta.
  8. Nasjen, Laki-laki, usia 41 tahun, swasta, Sulawesi Selatan.
  9. Yuda Gurusinga, laki-laki, usia 42 tahun, swasta, suku Selayar.

Total ada 12 korban serangan KKB yang di duga dikomandoi Egianus Kogoya. “Dari korban yang semula hanya berjumlah tujuh orang, saat ini menjadi 12 korban di mana 10 korban meninggal dunia,” ungkapnya.

Kamal menuturkan, sembilan korban meninggal dievakuasi ke Timika, Kabupaten Mimika. Sementara satu jenazah lainnya diambil pihak keluarganya untuk dimakamkan di Distrik Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga.

“Adapun dua korban luka-luka juga dievakuasi ke Timika,” kata Kamal. Belum diketahui ihwal dan motif penembakan hingga pembantaian tersebut.

Namun, Kamal menuturkan penyerangan bermula saat satu di antara korban yang merupakan pedagang kelontongan dan tujuh orang lainnya berada di dalam truk. “Diketahui bahwa truk tersebut merupakan kendaraan pengangkut barang,” ujarnya.

Menurut Faizal, sebagian besar korban mengalami luka tembak dan sebagian luka benda tajam. Mengenai pelaku, Faizal meyakini para pelaku adalah KKB pimpinan Egianus Kogoya.

“Kami sangat yakin ini kelompok Egianus,” cetusnya. Faizal menyebut akan ada satu tim yang dikirim untuk melakukan identifikasi di lokasi kejadian. “Jarak TKP tidak terlalu jauh, tapi daerahnya itu daerah pinggir,” ungkap Faizal.

Artikel Terkait

Leave a Comment