Ketua ULMWP Benny Wenda

Demi Kepentingan Forum Kepulauan Pasifik, Benny Wenda Kembali Provokasi Isu Kedatangan PBB ke Papua

by Redaksi
Ketua ULMWP Benny Wenda

nusaraya.online – Benny Wenda, salah satu tokoh separatis Papua yang berada dibalik United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) kembali berulah menyerukan kemerdekaan Papua dan isu kunjungan PBB ke bumi Cenderawasih. Dirinya yang kini sedang berada di Port Villa Vanuatu dalam pertemuan Pasific Island Forum (PIF) berupaya memprovokasi para pemimpin pasifik untuk berdiskusi kembali perihal kunjungan komisaris tinggi PBB ke Papua.

Dikutip dari pemberitaan di The Guardian, dirinya menyebut bahwa para pemimpin pasifik selama ajang PIF bakal mendorong pemerintah Indonesia menyelesaikan waktu kunjungan bagi komisaris tinggi PBB ke tanah Papua dalam menyelidiki pelanggaran HAM yang sebelumnya dilaporkan. Secara sepihak, Benny Wenda juga mengklaim bahwa Papua saat ini berada dalam kekacauan yang terus menerus selama bertahun-tahun sehingga permasalahan ini perlu disorot dalam forum PIF.

Penyelenggaraan PIF ke-51 dijadwalkan berlangsung di Suva Fiji 11-17 Juli 2022. Dalam kesempatan tersebut, Benny Wenda bahkan mengucapkan terima kasih kepada Provinsi Dewan Pemerintah Provinsi SHEFA (SPGC) dan pemerintah Vanuatu karena telah mengakui perjuangan untuk menentukan nasib sendiri dan pembebasan dari pemerintah Indonesia.

Dukungan Vanuatu Terhadap Tindakan Separatis Benny Wenda

Salah satu yang membuat sosok Benny wenda tetap bertahan untuk menyebarkan isu kemerdekaan Papua adalah adanya dukungan dari beberapa pihak, salah satunya dari negara Vanuatu. Negara tersebut dikenal sangat aktif mendukung aksi Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk melepaskan diri dari Indonesia. Bahkan di negara tersebut terdapat asosiasi yang bernama Vanuatu West Papua Independence Struggle Association (VWPISA) atau Asosiasi Perjuangan Kemerdekaan Papua Barat Vanuatu. Selain itu juga terdapat kantor perjuangan Papua Barat.

Mengutip dari dailypost.vu, Benny Wenda dikabarkan bertemu dengan Komite Eksekutif VWPISA dan Dewan Pemerintah Provinsi (SPGC) SHEFA serta sejumlah pejabat di antaranya, Presiden Dewan Kepala Malvatumauri Willie Plasua dan Presiden Dewan Kepala Vaturisu Simeon Poilapa. Disebutkan dalam kesempatan tersebut, Benny Wenda diterima SPGC sebagai tamu penting, dengan menyerahkan bendera Papua Barat kepada Presiden Malvatumauri Willie Plasua.

Selain Vanuatu, Benny Wenda juga dikabarkan telah menghimpun kekuatan di luar negeri dengan menggelar pertemuan dengan senator parlemen di Spanyol. Pertemuan tersebut juga dihadiri anggota parlemen IPWP Inggris. Dalam unggahan yang diteruskan di fanpage Benny Wenda, dari akun Facebook Free West Papua Campaign, terlihat rapat digelar 16 Juni 2022.

Sesumbar Benny Wenda Merespon Pengesahan UU DOB

Salah satu pihak yang tidak setuju perihal kebijakan pemekaran wilayah di Papua dimotori oleh kelompok separatis. Bagi mereka, pemekaran provinsi akan membuat kekuatannya terpecah, terbatasnya ruang gerak, dan tak mampu lagi ‘berjuang’ mempropagandakan kemerdekaan.

Sepak terjang Benny Wenda dalam hal sesumbar pernah terjadi dalam beberapa waktu. Sebelumnya, dirinya pernah mengaku telah memerdekakan Papua Barat, kemudian pada tanggal 1 Juli 2022 lalu mengaku telah memperkuat departemen intelijen dengan pembentukan Badan Intelijen Papua, serta menunjuk anggota eksekutif untuk masing-masing dari tujuh badan regional.

Beberapa sesumbar yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya tersebut ditengarai sebagai bentuk ketersudutannya merespon sikap pemerintah dalam kebijakan pemekaran provinsi di Papua. Kondisi kelompoknya yang semakin tersudut menyusul disahkannya UU DOB tersebut membuatnya mengeluarkan beberapa penyataan ancaman sebagai bentuk eksistensi yang sebenarnya bersifat delusi.

Jejak Provokatif Seorang Benny Wenda

Sejauh ini, nama Benny Wenda sudah melekat sebagai salah satu tokoh separatis yang mengklaim diri memperjuangkan melalui jalur diplomasi di luar negeri. Secara posisi fisik dirinya memang tidak berada di Indonesia. Namun secara kekuasaan dan pengaruh mencoba membawahi keberadaan kelompok separatis di Papua untuk mendorong kemerdekaan dan pelepasan diri terhadap NKRI.

Selain didukung Vanuatu dan merapat ke Spanyol, Benny Wenda juga diketahui hadir bersama International Parliamentarians for West Papua (IPWP) dalam sebuah acara forum di Parlemen Inggris pada 14 Juni 2022 lalu. Dirinya secara lantang menyerukan kunjungan PBB ke Papua untuk selidiki pelanggaran HAM. Keterangan pemerintah Indonesia kepada dunia atas perlindungan HAM di Papua disebut sebagai hal bohong karena telah terjadi pendudukan militer Indonesia. Orang Papua diklaim menjadi pengungsi di negara sendiri, seperti di Nduga, Intan Jaya, Maybrat, dan Oksibil. Di Indonesia juga tidak terdapat hak berekspresi, adanya seruan kebebasan hanya berujung pada dakwaan pengkhianatan sebagai tahanan politik.

Maksud hati mencari dukungan dan simpati dari dunia internasional melalui jalur Parlemen Inggris, namun sepertinya seorang Benny Wenda sedang lupa atau tak peduli dengan sikap kelompoknya dan kaitannya dengan kondisi di Papua sebagai dampak dari ulah teman-temannya sendiri.

Tercatat, hingga pertengahan tahun 2022, Kelompok Separatis dan Teroris Papua telah bertindak biadab menyerang dan membunuh sebanyak 25 orang, terdiri dari 7 anggota TNI-Polri dan 18 warga sipil. Sementara korban luka-luka sebanyak 17 orang, terdiri dari 14 anggota TNI-Polri dan 3 warga sipil. Adapun dari pihak Kelompok Separatis tercatat 3 orang tewas ketika terlibat kontak tembak dengan aparat TNI Polri. Berdasarkan keterangan dari Kapolda Papua Irjen Mathius D Fakhiri, terdapat 44 aksi teror selama bulan Januari hingga Juni 2022.

Adanya embel-embel pembentukan departemen intelijen adalah khayalan seorang tokoh separatis yang mengklaim memimpin pergerakan untuk lepas dari Indonesia, padahal di internal organisasinya sendiri sedang terjadi perpecahan. Selain konflik internal antara dirinya dengan salah satu organisasi yang dinaungi ULMWP bernama West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL). Benny Wenda juga dianggap hanya menumpang hidup oleh pimpinan kelompok separatis Nduga, Egianus Kogoya. Lewat pernyataannya, ia menjelaskan bahwa pihaknya hingga saat ini terus berjuang setengah mati di hutan untuk Papua merdeka, sedangkan yang hidup di luar negeri mengaku sebagai diplomat tapi hanya untuk kepentingan mencari keuntungan dari kelompok yang berada di Papua. Keberadaan Benny Wenda secara tegas disebut hanya menumpang hidup dari aksi-aksi teror kelompok separatis dan teroris di Papua.

Memperjuangkan pelepasan dari sebuah negara dengan iming-iming merdeka melibatkan banyak kepala memang tak semudah mengedipkan mata. Banyak faktor yang mempengaruhi sekaligus menentukan misi panjang tersebut menjadi kesepakatan atau hanya berujung perpecahan akibat perbedaan kepentingan. Hal ini terlihat dari beberapa kejadian di kelompok separatis yang diindikasi tak terkoordinasi dan cenderung berjalan sendiri-sendiri. Bahkan dalam satu kelompok terjadi ketidakpatuhan antara pimpinan dan anggotanya.

Apa yang bisa diharapkan dari seorang Benny Wenda yang kerap melakukan kesalahan dan sudah tak lagi dipercaya oleh organisasi dan lingkungan sekitarnya. Bisa dipastikan isu provokasi kepada pemimpin pasifik untuk mendorong PBB ke Papua hanya angin lalu sebagai bentuk ketersudutannya pasca UU DOB disahkan serta mengejar eksistensi dirinya terhadap pergerakan kelompok separatis Papua.

Masyarakat Papua bisa dipastikan tak berkutik dengan isu dari seorang Benny Wenda, karena melalui pengesahan pemekaran provinsi, seluruh masyarakat menaruh harapan besar akan percepatan kemajuan dan kesejahteraan. Pada akhirnya, segala niat baik dan keinginan pemerintah untuk memajukan Papua melalui pemekaran guna mewujudkan pemerataan pembangunan, mempercepat pelayanan publik, kesejahteraan masyarakat, dan mengangkat harkat derajat orang asli Papua, memerlukan dukungan dari seluruh masyarakat Papua agar dapat terwujud secara utuh.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment