GAMKI Jatim Apresiasi Gubernur Khofifah Tanggap Masalah Guru Rasis ke Siswa Papua

by Redaksi

Sekretaris DPD Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Jawa Timur, Arnold L Panjaitan memuji langkah Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khohifah Indar Parawansa yang tanggap dalam permasalahan rasisme dilakukan seorang guru terhadap siswa SMA asal Papua di Jember.

“Kami mengapresiasi langkah Ibu Gubernur Jatim dalam menyikapi permasalahan rasis yang terjadi di Jember” ujar Arnold L Panjaitan dalam siaran persnya dikutip Kureta, di Jakarta, Sabtu, 5 Februari 2022.

Arnold menilai Jawa Timur sebagai provinsi yang masyarakatnya hidup dengan nilai-nilai pluralisme.

“Kami berharap Jawa Timur tetap dipertahankan menjadi daerah yang selalu guyub dan rukun” tuturnya.

Arnold memastikan, ketika Gubernur Khofifah berupaya menjaga kerukunan dan toleransi di Jawa Timur, maka GAMKI siap mengawal untuk melakukannya.

“Semoga kasus seperti ini tidak terulang lagi dan kita berharap bisa saling kondusif di daerah kita masing-masing” ucap Arnold.

Sebelumnya, Gubernur Khofifah langsung mendatangi sekolah yang disoroti ada kasus rasisme pada Sabtu, 29 Januari 2022. Dia pun menyesalkan adanya kejadian ini dan berharap peristiwa serupa tak terulang lagi. 

Khofifah meminta agar sekolah bisa kondusif sehingga tercipta kegiatan belajar mengajar yang baik dan nyaman. 

“Kami hadir di sini karena sempat terkonfirmasi ada penyampaian kata-kata yang kurang tepat oleh guru kepada siswa,” kata Khofifah.

Seperti diketahui, seorang guru SMA di Kabupaten Jember telah dibebastugakan setelah melontarkan kata-kata rasis saat mengajar. Kasus tersebut berawal saat sang guru mengajar di kelas pada 26 Januari 2022. 

Di dalam kelas tersebut terdapat pelajar Papua yang sedang mengikuti program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Saat mengajar, sang guru memberikan sanksi kepada salah satu muridnya yang tidak mengerjakan tugas.

Sontak terlontar ucapan rasis dari guru yang membuat pelajar dari Papua kecewa. 

Sehari setelahnya, sang guru mengakui kesalahannya dan meminta maf. Namun, sang guru kemudian dibebastugakan dari kegiatan belajar mengajar dan dimutasi menjadi staf di Kantor Cabang Dinas Pendidikan (Dipendik) wilayah Jember-Lumajang.

Artikel Terkait

Leave a Comment