Tokoh OPM Jeffrey Bomanak

Hasut Rakyat Papua Harus Dukung Perang TPNPB OPM, Jeffrey P Bomanak Tergolong Provokator

by Redaksi
Tokoh OPM Jeffrey Bomanak

nusaraya.online – Jika terdapat penilaian terhadap sosok yang aktif kerap melemparkan unggahan narasi provokatif di media sosial mungkin salah satunya patut disematkan kepada tokoh TPNPB-OPM, Jeffrey P. Bomanak. Secara serampangan, dirinya seperti melakukan spam terhadap para followers dan friends di media sosial, khususnya Facebook. Unggahan terbaru dari dirinya adalah sebuah pernyataan bahwa mobiliasi ribuan pasukan TNI Polri di Papua hanya demi menjaga pencurian seluruh hasil kekayaan alam Papua. Menurutnya, seluruh bangsa Papua harus mendukung perang TPNPB OPM sebagai solusi untuk mengakhiri penderitaan rakyat Papua dari ancaman militer Indonesia yang disebutnya kolonial di bumi Papua. Dirinya juga menyatakan bahwa telah bertemu dan hidup dengan semua pemimpin-pemimpin perjuangan bangsa Papua dari dalam negeri sampai ke luar negeri. Disebutnya bahwa nasihat yang kemudian diberikan adalah agar menjadi kebenaran sejarah perjuangan bangsa Papua secara konsisten dan jangan pernah rubah atau revisi OPM dengan alasan apapun dan dengan cara apapun, karena OPM adalah organisasi yang lahir atas kesadaran orang Papua dan lahir di atas tanah Papua serta telah menjadi milik bangsa Papua dari awal hingga akhir nanti untuk merdeka dan berdaulat.

Sebuah pemahaman yang tentu saja bersifat subjektif melihat kondisi dan permasalahan dari sudut pandang searah dan jelas-jelas bertendensi pada upaya pelepasan Papua dari Indonesia. Hal ini tentu saja bukan pertama kali dilakukan oleh seorang Jeffrey P. Bomanak. Seseorang yang disebut sebagai pemimpin TPNPB OPM tersebut terbilang aktif dalam berkicau di unggahan media sosial Facebook. Dirinya sadar, bahwa salah satu upaya untuk memelihara semangat para pendukungnya adalah melalui bombardir kata-kata, meski harus melalui unggahan di sosial media. Jeffrey Bomanak merasa bahwa strategi peperangan bisa menjadi jalan singkat untuk memaksa dunia yakni PBB agar Indonesia bersedia bernegosiasi terkait kemerdekaan Papua. Sebuah jalan pikiran pendek, tak memperhatikan sebab akibat hingga dampak yang terjadi akibat sejumlah aksi kekerasan yang dilakukan kelompoknya selama ini demi misi kemerdekaan yang utopis.

Perselisihan Paham Kelompok Separatis dalam Menyikapi Upaya Pelepasan Papua dari Indonesia

Bisa jadi intensitas berkicau seorang Jeffrey P. Bomanak tak hanya ditujukan kepada publik secara luas yang berada di luar circle nya untuk turut mendukung kemerdekaan Papua. Secara tersirat, unggahan provokatif yang kerap muncul darinya juga dimaksudkan kepada internal pada kelompoknya sendiri. Untuk diketahui bahwa dalam kelompok separatis Papua sendiri juga terdapat perpecahan dan perbedaan pandangan dalam menyikapi upaya pelepasan dari Indonesia. Sejumah sub kelompok bahkan berdiri sendiri tanpa melalui komando dari pihak yang disebut sebagai pemimpinnya. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu adanya gangguan keamanan yang terjadi beruntun seperti sedang berlomba-lomba untuk menunjukkan eksistensi.

Begitu juga yang terjadi antara Jeffrey P. Bomanak selaku orang yang mengaku sebagai ketua TPNPB OPM dan Benny Wenda selaku orang yang mengaku presiden sementara West Papua sekaligus pemimpin ULMWP. Disebutkan dalam sebuah pernyataan yang disampaikan melalui Radio New Zealand (RNZ), Benny Wenda menyampaikan kepada OPM agar segera membebaskan pilot Susi Air karena negara Selandia Baru merupakan pendukung kuat Papua Barat. Insiden penyanderaan Pilot disebut merupakan kesalahan pemerintah Indonesia karena terus membiarkan pelanggaran HAM di Papua dan menolak mengizinkan Komisioner HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengunjungi wilayah Papua.

Merespon hal tersebut, Jeffrey P. Bomanak lantas membantah pernyataan Benny Wenda dengan sikap kontra. Menurutnya siapapun politisi tidak punya kapasitas untuk mendikte OPM, apalagi seorang Benny Wenda yang tidak memiliki legalitas dan integritas dalam orientasi politik TPNPB-OPM. Baginya, seorang Benny Wenda tidak termasuk dalam perjuangan bangsa Papua. Ia hanya pembuat propaganda dan penipu yang selalu mencari sensasi terkait isu diplomasi perjuangan bangsa Papua. Saat ini Benny Wenda disebut hanya menari diatas panggung politik yang dilakukan TPNPB-OPM. Sebagai contoh, saat mencari dukungan hingga ke wilayah pasifik dan khususnya Vanuatu yang merupakan kerja keras OPM, hasil dari perang gerilya berdasarkan konstitusi 1 Juli 1971. Sekali lagi bahwa TPNPB OPM tidak mengakui setiap politisi yang mengklaim diri sebagai presiden tanpa ada proses kebenaran yang demokratis dalam perjuangan bangsa Papua. Singkatnya, TPNPB OPM tidak mengakui apapun yang disampaikan oleh Benny Wenda.

Perselisihan Jeffrey P. Bomanak dan Sebby Sambom Terkait Penangkapan Anton Gobay

Pada lain peristiwa, ketidakkompakan juga terjadi pada tubuh TPNPB OPM khususnya pada saat penangkapan pilot Anton Gobay di Philipina. Dalam pernyataaannya, Jeffrey P. Bomanak menuntut pemerintah Philipina agar menghormati perjuangan masyarakat Papua dan membebaskan Anton Gobay. Dirinya juga mengakui bahwa Anton Gobay merupakan anggota TPNPB. Di sisi lain, juru bicara TPNPB OPM, Sebby Sambom menolak mengakui Anton Gobay sebagai anggota TPNPB OPM. Bahkan dirinya juga menganggap pernyataan Jeffrey P. Bomanak terkait tuntutan pembebasan Anton Gobay sebagai pernyataan sampah. Menurutnya, yang dilakukan Anton Gobay adalah kegiatan illegal karena kerja sama dengan kelompok kiri Philipina.

Sebby Sambom justru kemudia membeberkan bahwa Jeffrey P. Bomanak sebagai pelaku kriminal karena pernah merampok dirinya dan Anton Gobay di Bougainville, Papua Nugini. Jeffrey P. Bomanak juga disebut hanya mencari panggung. Dirinya tidak mengakui keberadaannya. Diantara 36 komando daerah pertahanan TPNPB OPM, Jeffrey Bomanak dengan Benny Wenda disebut sebagai orang oportunis dan ambisius.

Perselisihan Egianus Kogoya dengan Jeffrey P. Bomanak Menyikapi Pergerakan Kelompok Separatis Papua

Tak hanya dengan Benny Wenda dan Sebby Sambom, tidak solidnya para aktivis ini juga merambah hingga Egianus Kogoya. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial beberapa waktu silam, dirinya tampak murka menyinggung orang-orang yang hidup di luar negeri mengaku sebagai diplomat dan berjuang untuk Papua merdeka. Egianus Kogoya secara blak-blakan menyebut nama satu per satu yakni Benny Wenda, Sebby Sambom. Viktor Yemu dan Jeffrey Pagawa Bomanak. Mereka dituding sebagai pihak yang hanya menumpang hidup dari aksi kelompoknya yang disebut berjuang untuk kemerdekaan Papua.

Motif Berulang Jeffrey P. Bomanak untuk Tunjukkan Eksistensi Diri

Adanya perselisihan di tubuh para aktivis pendukung kemerdekaan Papua tersebut menandakan terdapat celah diantara mereka dalam sejumlah pergerakan yang tidak terkoordinasi. Sifat dasar mereka yang haus akan eksistensi menjadi kelemahan sekaligus kewaspadaan yang harus diantisipasi. Adanya insiden penyanderaan pilot Susi Air seperti menjadi ajang bagi mereka untuk menunjukkan kekuatan dengan sejumlah upaya ancaman yang belum tentu sama dengan kondisi di lapangan. Posisi sejumlah aktivis tersebut yang tak berada di wilayah Papua menjadi satu indikasi besar bahwa motif yang sedang dicari adalah panggung eksistensi. Bersatunya mereka saja masih belum bisa mewujudkan misi separatis – kemerdekaan, apalagi saat ini terpecah belah karena kepentingan individual. Maka seharusnya adanya narasi-narasi tersebut tak perlu digubris atau direspon secara berlebih karena hanya menjadikan dirinya besar rasa.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment