Aktivis Partai Bintang Timur, Yulvin Mote

Ingin Cari Perhatian, Mantan Pilot Bermasalah Dorong Pemerintah Indonesia Gagas Kemerdekaan Papua

by Redaksi
Aktivis Partai Bintang Timur, Yulvin Mote

nusaraya.online – Isu kemerdekaan Papua sepertinya masih terus menjadi amunisi bagi pihak-pihak yang menyebut dirinya tengah memperjuangkan melalui sejumlah dalih yang acapkali menyudutkan pemerintah Indonesia. Sebuah pemberitaan dari media online suarapapua.com mengabarkan pernyataan dari aktivis Partai Bintang Timur (PBT), Yulvin Mote bahwa pemerintah Indonesia harus membuka diri seluas-luasnya untuk bicara baik tentang berbagai aspirasi rakyat Papua. Sebab, sampai hari ini bangsa Papua diklaimnya menginginkan merdeka namun pemerintah tidak pernah mau menggubris. Yulvin lantas menyatakan bahwa Indonesia harus membangun narasi-narasi provokatif untuk menghambat isu Papua merdeka.

Menurutnya, Indonesia bertahan tanpa bukti sejarah sejak tahun 1961-1969 tentang masalah Papua. Oleh karenanya, rakyat Papua disebutnya konsisten dengan perjuangan keluar dari rantai penindasan dan penjajahan. Seperti tak puas dengan pembahasan sejarah Papua, dirinya juga menyoroti pemerintah pusat yang selalu mempersoalkan otonomi khusus (Otsus), padahal isinya ‘nasi bungkus’ bagi para penguasa dan pengusaha di tanah Papua. Semua visi dan misi negara dibungkusi di dalam Otsus dengan tujuan untuk mengekploitasi, menindas, dan menghabisi orang asli Papua.

Narasi pemberitaan suarapapua.com tersebut lantas flashback kepada pemberitaan sebelumnya, dimana terdapat seorang Sadrack Lagowan saat berorasi dalam aksi mimbar bebas di halaman asrama mahasiswa Mimika, Perumnas 1, Waena Kota Jayapura Papua pada 4 April 2023 lalu. Dalam orasi tersebut disampaikan bahwa situasi terkini Papua dalam zona darurat kemanusiaan. Menurutnya, negara harus mengupayakan solusi terbaik, meski berbagai usulan atau aspirasi rakyat selalu diabaikan. Di akhir orasinya, disampaikan bahwa pelanggaran HAM di tanah Papua, terutama di daerah konflik harus diutamakan, jangan ada pertumpahan darah. Negara Indonesia harus berhenti membunuh orang-orang Papua. Sampai disini, kita wajb mulai curiga, bahwa terdapat hal tak lumrah yang sedang dilakukan oleh media suarapapua.com. Munculnya pemberitaan yang kerap condong kepada kelompok separatis seperti sedang mempertaruhkan sisi objektifitas sebuah media. Media yang seharusnya mengabarkkan sesuai fakta yang terjadi, justru tergadaikan idealisnya hanya kepentingan pihak tertentu. Sebuah lampu merah untuk media semacam suarapapua.com agar diperhatikan kembali setiap konten pemberitaan yang dipublikasikan, apakah benar-benar sesuai dengan fakta dan realita yang terjadi di lapangan atau hanya berdasar pada fakta media yang sudah terpoles oleh narasi-narasi penuh tendesi demi kepentingan kelompok tertentu.

Keinginan Kemerdekaan Papua Hanyalah Ilusi Kepentingan Kelompok Separatis

Entah kapan sadarnya pihak-pihak yang mengaku sedang memperjuangkan kemerdekaan Papua dengan bermisi lepas dari Indonesia. Mereka tidak berpikir panjang bahwa ketika Papua tak lagi menjadi wilayah Indonesia, akan mampu hidup secara mandiri dan merdeka seperti impian dan khayalannya selama ini. Kasus wilayah Timor Timur harusnya menjadi pembelajaran bagi mereka bahwa tidak semua keinginan untuk merdeka berujung pada kondisi harafiah yang sebenarnya. Lebih dari 20 tahun sejak Timor Timur lepas dari Indonesia, belum sesuai dengan harapan dan impian yang mereka kejar sebelumnya. Begitu juga dengan tanah Papua, bentangan wilayah dengan sumber daya alam yang melimpah sudah pasti akan menjadi incaran bagi banyak pihak jika nantinya lepas dari Indonesia. Belum kemudian kebijakan ekonomi hingga politik yang kemudian turut lepas yang selama ini menjadi ‘sandaran’ bagi sebagian masyarakat Papua.

Maka menjadi sesuatu yang disayangkan jika kemerdekaan Papua adalah sebuah bayangan bagi mereka akan adanya kemajuan terhadap suatu wilayah. Bisa jadi hal tersebut hanyalah ilusi atau halusinasi untuk kepentingan sebuah kelompok yang kerap melakukan aksi penyerangan terhadap aparat keamanan hingga masyarakat di wilayah-wilayah Papua.

Integrasi Papua ke Indonesia adalah Final

Penegasan ini bukanlah omong kosong belaka ataupun dalam rangka menyanggah pernyataan dari aktivis Partai Bintang Timur (PBT), Yulvin Mote. Sejumlah pernyataan telah disampaikan oleh tokoh-tokoh di Papua merespon status dan kondisi Papua berkaitan dengan posisinya sebagai bagian dari wilayah Indonesia.

Tokoh agama sekaligus sejarawan Papua, Pendeta Freddy H.Toam menyatakan bahwa integritas Papua ke dalam NKRI terjadi setelah 18 tahun Indonesia merdeka. Dalam kesempatan tersebut banyak tokoh Papua yang terlibat. Terdapat pandangan historis kritis yang mengakar dalam sebagian warga Papua. Pandangan tersebut terutama dikalangan para teolog Protestan yang melihat integrasi politik Tanah Papua ke dalam NKRI sebagai suatu peta jalan yang dirancang oleh tangan Tuhan atau disebut sebagai Motivasi Tuhan. Beberapa pemikiran kritis historis atas integrasi tanah Papua ke dalam NKRI tersebut. Pertama, bahwa integrasi Papua ke dalam Indonesia dipersiapkan oleh Tuhan pemimpin sejarah sebelum 1 Mei 1963.

Disebutkan bahwa Tuhan menetapkan garis linier kesejarahan Tanah Papua dengan kepulauan sebelah Barat Tanah Papua yaitu Indonesia dan bukan sebaliknya ke sebelah Timur dengan kepulauan Pasifik atau ke selatan dengan Benua Australia. Kedua, jauh sebelum integrasi politik 1 Mei penggunaan Bahasa Melayu (sekarang bahasa Indonesia) telah dipergunakan secara luas oleh orang Papua sebagai bahasa komunikasi antar masyarakat, terutama orang-orang Papua dibagian Barat-Tenggara bahkan, Teluk Cenderawasih (Saireri). Ketiga, dalam catatan sejarah, Papua pernah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Spanyol, ketika Inigo Ortiz de Retes 1545 menancapkan bendera Spanyol di Muara Mamberamo dan memberikan nama Tanah Papua sebagai Nova Guinea. Keempat, orang Papua yang saat ini disebut sebagai Indonesia tidak memiliki hubungan emosional apalagi hubungan sosial ekonomi dan politik dengan saudara-saudaranya di sebelah Timur Tanah Papua. Kemerdekaan bagian Timur Tanah Papua menjadi negara Papua New Guinea tidak sedikitpun menarik minat orang Papua Indonesia untuk bergabung atau menggabungkan kedua wilayah ini menjadi satu negera kendati hanya bersebelahan daratan. Dari catatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa arah pergerakan aktivitas sosial budaya keluar dan ke dalam wilayah Papua datang dari kawasan barat tanah Papua, yaitu dari Indonesia.

Sementara itu, mantan aktivis OPM, John Norotiuw menyatakan bahwa integrasi Papua sudah final. Saat ini masa depan ada di tangan anak-anak Papua untuk lebih baik. Sejarah janganlah dijadikan persoalan namun harus dipelajari sehingga tidak salah. Papua adalah salah satu perekat kuat tali nasionalisme yang dibangun diatas rasa cinta persaudaraan. Kehadiran Papua di Indonesia adalah sesuatu yang terjadi atas kehendak Tuhan yang mahakuasa. Hal senada juga disampaikan oleh Koordinator PPI Dunia Kawasan Asia-Oseania, Achyar Al Rasyid bahwa adanya peringatan 1 Desember sebagai hari kemerdekaan Papua Barat hanyalah ilusi saja. Berdasarkan hukum internasional maupun sejarah tidak ada yang bisa membenarkan. Belanda yang bermanuver agar Papua Barat Merdeka. Di Belanda sendiri tidak terdapat keterangan ataupun dokumen bahwa Papua Merdeka. Perlu diketahui bahwa masyarakat Papua menjadi bagian dalam perjuangan kemerdekaan NKRI saat itu.

Angkat Isu Papua Merdeka demi Eksistensi Diri

Kembali lagi kepada adanya pernyataan yang disampaikan oleh aktivis Partai Bintang Timur (PBT), Yulvin Mote berkaitan dengan dorongan kepada pemerintah Indonesia agar menggubris permintaan sebagian masyarakat Papua untuk lepas dari Indonesia. Bisa dipastikan bahwa hal tersebut merupakan upaya untuk menaikkan eksistensi diri maupun partainya yang rupanya masih perlu disorot melalui sejumlah gorengan isu agar publik melirik. Salah satunya yakni melalui tunggangan isu kemerdekaan Papua. Sebuah motif klise yang harusnya tidak kita gagas lagi lebih jauh. Cukup didiamkan saja. Terlebih seorang Yulvin Mote yang ternyata merupakan mantan Pilot jebolan Epic Flight Academy (EFA), Florida Amerika Serikat pernah memiliki jejak masalah, yakni dilarang menerbangkan pesawat di wilayah Indonesia lantaran mengenakan gelang bermotif bintang kejora.  

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment