Membangun Papua, Fahri Usul Jarak Non Fisik Juga Dipotong

by Redaksi

Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah

Papua, nusaraya.online – Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah menilai, ada ‘jarak’ antara kita dengan Papua dalam pembangunan selama ini. Bukan soal jarak fisik, tetapi soal jiwa.

Untuk memutus jarak tersebut, memang diakuinya Presiden Joko Widodo telah membangun berbagai infrastruktur yang memangkas jarak yang selama ini cukup jauh. Namun dia melihat, ada jarak-jarak lainnya yang mesti dipotong, yakni jarak jiwa.

“Saya mengusulkan agar kita ‘memotong jarak’ antara kita dengan Papua secara komprehensif, fisik dan non-fisik” ujar Fahri dalam Webinar Moya Institute yang bertajuk “Teror Menyergap Papua”, dikutip Minggu 24 April 2022.

Menurut Fahri, pendekatan dengan orang-orang Papua adalah dari hati. Yakni meyakinkan hati mereka bahwa mereka dengan orang Indonesia yang lain pada dasarnya adalah sama, bersaudara secara fundamental.

Untuk dapat menjelaskan itu secara massif, menurutnya adalah melalui dunia pendidikan. Hal elementer seperti itu harus masuk dalam pembelajaran mereka.

“Memang realitasnya, Papua bergabung dengan Indonesia dengan dasar Pepera 1969, yang sudah diakui PBB. Tapi kita juga harus menceritakan pada orang Papua, bahwa daerah-daerah di Indonesia bergabung seluruhnya dengan Indonesia segera setelah Indonesia merdeka, tanpa kecuali”, jelasnya.

Politisi asal Sumbawa NTB inipun mencontohkan, bagaimana daerahnya akhirnya ikut memutuskan untuk bergabung dengan NKRI.

“Kampung saya, Sumbawa, bergabung dengan NKRI tahun 1953. Raja Sumbawa kala itu, menyerahkan seluruh aset daerah ke pemerintah pusat, dan menyatakan bergabung dengan NKRI. Sehingga kami pun dikelola dalam konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelasnya.

Di tempat yang sama, pemerhati isu-isu strategis Prof Imron Cotan mengatakan, pemerintah pusat sebenarnya sudah turun dengan berbagai programnya di Papua. Termasuk program Papua Muda Inspiratif, dalam rangka memberdayakan generasi milenial Papua.

Hub-hub telah dibangun agar ada ruang bagi kaum muda Papua dalam berinteraksi dan berjejaring dengan lainnya. Untyk mengembangkan berbagai potensi baik itu bidang perkebunan hingga pertanian perikanan.

“Terutama yang sekarang sedang menuai hasilnya itu adalah tanaman jagung. Jadi, diam-diam, generasi milenial Papua itu bergerak,” kata Imron.

Apalagi program ini cukup baik karena didorong oleh berbagai perusahaan besar. Yang mana mereka cukup peduli dengan Papua ke depannya. Menyiapkan dana CSR dalam ikut menopang program tersebut.

“Dan sudah ada beberapa produk dari kaum milenial Papua ini yang dipasarkan di luar negeri oleh perwakilan-perwakilan Republik Indonesia. Program ini memang tidak viral, tapi sudah melibatkan ratusan kaum milenial di Papua maupun Papua Barat,” jelasnya.

Direktur Eksekutif Moya Institute, Hery Sucipto menyoroti masih terjadinya aksi kekerasan di sana. Apalagi sampai jatuh korban. Bahkan termasuk dari kalangan TNI/Polri dan rakyat biasa.

Padahal, lanjut Hery, pembangunan yang masif telah dilakukan di Papua sejak masa pemerintahan Presiden Jokowi, baik periode pertama dan kedua. Otonomi khusus juga terus bergulir dengan dana yang tak sedikit.

“Ini menjadi ‘PR’ kita bersama,” ujar Hery.

Sumber: viva.co.id

Artikel Terkait

Leave a Comment