Isu politik identitas menjadi salah satu atribut yang kerap digunakan untuk merajut perolehan suara dalam pemilihan umum. Untuk mengantisipasi dampak negatif politik identitas, Cangkir Opini menggelar penguatan literasi politik dalam FGD bertajuk ‘Mewujudkan Politik Harmoni Menuju Pemilu 2024 yang Sejuk dan Damai’ di Malang pada Kamis (27/7/2023).

FGD ini dihadiri oleh kalangan muda berbagai organisasi. Mulai pegiat parpol, mahasiwa berbagai perguruan tinggi hingga pemuda berbagai organisasi.

Diketahui, politik identitas yang disalahgunakan dapat mengakibatkan dampak negatif. Mulai munculnya konflik SARA, radikalisme agama hingga manuver politik penuh propaganda pemicu kebencian terhadap pihak lain.

Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Wahyudi Winarjo yang menjadi salah satu pemateri dalam FGD tersebut menyampaikan bahwa isu politik identitas memang selalu digunakan di negara manapun.

“Persoalannya adalah apakah politik identitas dipergunakan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan bangsa. Yang tidak baik itu adalah politik identitas yang mengganggap identitas pihak lain itu tidak baik,” tuturnya.

Menurutnya, politik identitas akan menjadi semakin bahaya jika pelaku praktek politik identitas menganggap dan melakukan tindakan tindakan menebar kebencian terhadap pihak lain hingga menimbulkan perpecahan.

“Apalagi melakukan tindakan tindakan memusuhi bahkan menghalalkan darahnya dan lain sebagainya,” kata dia.

Untuk itu, dia berpesan kepada masyarakat dan generasi muda atau calon pemilih muda untuk memperkuat literasi politik demi masa depan bangsa yang lebih baik.

“Anak muda adalah kalangan paling aktif menggunakan media sosial. Ngerinya, ternyata anak anak muda banyak yang terjerumus turut ikut melakukan ujaran kebencian seperti bullying, hate speech hingga hoax,” ujarnya.

“Harapannya, pemuda harus punya hati nurani, literasi politik, wawasan politik yang positif untuk kebaikan kehidupan bangsa dan negara. Anak muda harus membawa bahwa Indonesia milik semua, bukan milik kelompok tertentu,” imbuhnya.

Dia juga berharap generasi muda bisa dengan bijak memanfaatkan media sosial dalam memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara.

“Saya yakin anak muda bisa melakukan itu. Saya harap media sosial dijadikan wadah menuangkan ekspresi untuk memperjuangkan kebaikan bangsa. Karena anak muda pengendali media sosial, pengguna dan penggeraknya,” ucapnya.

Senada dengan Wahyudi, Influencer Ilham Zada yang juga menjadi pemateri FGD tersebut menyampaikan bahwa politik identitas memang akan selalu terjadi.

“Bicara politik identitas, itu pasti terjadi. Semua orang itu berada di lingkaran lingkaran sosial yang mempengaruhi pilihan politik atau pilihan apapun,” ujarnya.

Menurutnya, politik identitas di Indonesia kerap dikaitkan dengan Pilgub Jakarta 2017. Bahkan, kata Ilham, Pilgub Jakarta 2017 menjadi fenomena yang membuat orang beranggapan politik identitas itu negatif dan ditakuti.

“Padahal politik identitas itu tergantung pada bagaimana menggunakannya,” lanjutnya.

Dia berpandangan bahwa potensi politik identitas di Pemilu 2024 tak lagi soal agama. Jika calon presiden Pemilu 2024 benar benar diisi oleh Prabowo, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Sebab ketiganya beragama yang sama.

“Jadi peluangnya politik identitas bukan di agama lagi karena agamanya sama. Peluangnya di ras, karena Anies kan berbeda,” ungkapnya.

Melalui kegiatan FGD ini, literasi politik para generasi muda bisa semakin kuat. Dengan demikian, bahaya politisasi identitas di Pemilu 2024 yang menggunakan isu ras bisa diantisipasi.

“Kami juga berharap partai partai politik tidak menggunakan politik identitas di isu ras,” tandasnya.

Artikel Terkait

Leave a Comment