Belakangan warna hitam pergerakan radikalisme menorehkan nama Ustadz Bachtiar Nasir sebagai ulama yang bersuara lantang mendorong khilafah di Indonesia. Bachtiar Nasir memimpin aksi Bela Islam 212 dan telah berhasil menjadikan peristiwa tersebut sebagai panggung yang mendongkrak popularitasnya di kalangan masyarakat. Namanya kembali menjadi sorotan ketika cuplikan Video yang beredar pada pertemuan Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) yang dihadiri oleh Anies Baswedan, dalam moment tersebut Bachtiar Nasir menyinggung soal kemunculan sosok pembaharu Islam yang merupakan utusan Allah.

Dalam ceramahnya Bachtiar Nasir bahkan menyinggung jika Khilafah Islamiyah Turki Ottoman telah runtuh pada tahun 1924, maka akan lahir kembali pemimpin khilafah Islamiyah baru akan berdiri seratus tahun kemudian, yaitu 2024. Pernyataan ini tentu bukan isapan jempol semata, karena Bachtiar Nasir sudah terbukti memiliki massa yang sudah masuk dalam doktrinnya. Pemerintah dan masyarakat perlu mewaspadai pernyataan Bachtiar Nasir tentang khilafah yang akan bangkit dan kembali lahir pada saat PILPRES 2024.

Mencermati kondisi itu, “kelompok nasionalis harus berani dan berada di garda terdepan untuk menjaga amanah nenek moyang yaitu negeri yang indah dalam bingkai NKRI”, ucap Achmad Sayuti.

“Mereka sudah menata negeri ini dengan sedemikian rupa, mengorbankan jiwa raga untuk anak keturunannya hari ini dan masa mendatang. Jika kelompok khilafah yang baru datang ‘kemaren sore’ ingin mengobrak-abrik negeri ini dengan dalih keislaman, maka tegaskan bahwa nenek moyang dan pendiri bangsa ini lebih mengerti Islam dari mereka. Pertanyaan sederhananya: “siapa yang rela amanah leluhurnya diobrak-abrik orang lain?”, ungkap Achmad Sayuti 

Menarik benang merah dari perilaku dan peristiwa yang terjadi pasca kemunculan Bachtiar Nasir, maka yang berpotensi paling besar adalah Anies Baswedan. Kemungkinan Anies akan ditunggangi oleh kelompok khilafah berpeluang lebih besar, dibandingkan dengan Ganjar Pranowo ataupun Prabowo Subianto.

Sekarang pilihan ada didepan mata. Kebijakan masyarakat diperlukan dalam memilih siapapun calonnya presidennya nanti. Yakinkan diri bahwa yang di pilih nanti haruslah sosok nasionalis, dan menghindari calon presiden 2024 yang berafiliasi dengan khilafah. Jika Indonesia ingin kembali selamat, makal kelompok nasionalis harus bergandengan tangan dan menyatukan pilihan pada figure pimpinan yang nasionalis tulen, jangan sampai salah memilih calon pemimpin nasionalis karbitan.

*)

 Achmad Sayuti (Ketua Umum Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis Indonesia/FKMTHI 2018-2021)

Artikel Terkait

Leave a Comment