Otorita Ibu Kota Nusantaran (OIKN) menegaskan upaya-upaya pelibatan warga sekitar. Hal itu dinilai penting dalam menyukseskan pembangunan pusat pemerintahan baru Indonesia di Penajem Paser Utara, Kalimantan Timur, itu.



“Upaya-upaya pelibatan serta komunikasi yang terus menerus, kuat dan berarti dengan warga dan masyarakat setempat mengambil bagian sangat penting dalam suksesnya keberhasilan pembangunan Kota Nusantara,” kata Tenaga Ahli Komunikasi Otorita IKN Troy Pantouw melalui keterangan tertulis.

Hal itu disampaikan Troy Pantouw dalam forum ECOSOC High Level Political Forum on Sustainable Development (HPLF) 2023 di Markas Besar PBB, New York, 10-20 Juli 2023. Pertemuan ini dihadiri delegasi dari 196 negara. 

Dalam kesempatan tersebut juga diadakan seminar bertajuk Driving changes at the local level: Innovative approaches to localiza the SDGs (Experience, reflections, and ways forward).  Seminar yang berlangsung pada tanggal 17 Juli 2023 diadakan Delegasi Republik Indonesia dengan dukungan penyelenggara oleh UNDP, United Cities dan UCLG.

Hal senada disampaikan Staff Khusus Bidang Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) Diany Sadiawati. Menurut dia, pelibatan warga sekitar sangat penting dalam memastikan kesuksesan pembangunan Kota Nusantara. 

Pelibatan dilakukan dengan berbagai macam cara. Di antaranya, pendekatan melalui komunikasi, penyediaan berbagai program edukasi, serta beragam inisiatif lain.

“Tujuannya adalah untuk mempromosikan praktik baik keberlanjutan, usaha-usaha dalam melakukan proteksi lingkungan dan manajemen lingkungan hidup termasuk eco-tourism yang akan menunjang keberlanjutan ekonomi bagi warga dan komunitas setempat,” kata Diany.

Selain itu, dia menyampaikan IKN Nusantara bertekad menjadi kota pertama di dunia yang menerapkan konsep Kota Hutan Berkelanjutan. Hal itu disampaikan Diany mewakili Kepala Otorita IKN Nusantara Bambang Susantono dalam paparan berjudul Nusantara: Indonesia’s Sustainable Forest City.

Dia menyampaikan luas IKN Nusantara mencapai 256.000 hektare atau tiga kali lebih luas dari kota New York. Dari luas tersebut, hanya 25 kawasan dikembangkan menjadi wilayah perkotaan.

Wilayah perkotaan bakal didesain sebagai kota cerdas. Penerapan teknologi tak hanya meningkatkan kualitas hidup, tapi juga mengendalikan lingkungan.

Diharapkan, IKN Nusantara berdampak positif pada lingkungan hidup dan menjadi sebagai kota dengan karbon netral di tahun 2045. Sehingga, menjadi kota yang paling berkelanjutan di dunia yang dihuni sekitar 1,9 juta warga.

Fase pertama pembangunan IKN Nusantara akan berlangsung hingga 2024. Fase pertama ini meliputi persiapan Pembangunan infrastruktur inti dan fasilitas kepemerintahan. 

“Otorita Ibu Kota Nusantara menegaskan komitmennya untuk menyelaraskan Pembangunan sesuai dengan prinsip-prinsip SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang menekankan pada berbagai tujuan utama, termasuk pengurangan target kemiskinan, memastikan Pendidikan berkualitas serta layanan kesehatan, mempromosikan kota dan komunitas berkelanjutan, menghadapi perubahan iklim dan mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi, “ungkap Diany.

Selain itu, dia menyampaikan sisa wilayah IKN Nusantara tetap berfungsi menjadi area hijau. Bahkan, 65 persen kawasan IKN yang sebelumnya hutan indsutri diubah menjadi hutan tropis.

“Caranya adalah dengan program penghutanan kembali atau penanaman kembali di area tersebut dengan tanaman asli atau setempat. Karena hutan berperan penting dalam penyerapan air, mengurangi potensi banjir and menyerap karbon,” kata Diany.

Terkait misi sebagai Kota Hutan Berkelanjutan, pembangunan IKN Nusantara berfokus pada perlindungan hutan. Serta, konservasi yang dikawal dengan perangkat aturan dan perencanaan penggunaan tanah. 

Menurut dia, hal itu penting dilakukan guna memastikan konversi area hutan, taman perkotaan, area hijau untuk umum, serta kualitas udara yang sangat baik. 

Komitmen tersebut dibuat karena IKN Nusantara mendukung terhadap program pengurangan dampak cuaca panas di perkotaan. Serta, memberikan tempat rekreasi kepada warga setempat, tidak mengizinkan perusakan hutan, dan mempertahankan keanekaragaman hayati. 

Bagian dari pelaksanaan tujuan ini adalah kontruksi gedung dengan prinsip hijau yang memperhatikan efisiensi energi, penggunaan material ramah lingkungan, penerapan desain dengan prinsip-prinsip hijau seperti pencahayaan alami, pemanfaatan air hujan, serta atap dengan prinsip hijau.

Hadir dalam kesempatan seminar tersebut Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (M

Artikel Terkait

Leave a Comment