Parjal Papua Barat: Kontraversi 1 Mei Harus Diakhiri

by Redaksi

Panglima Parlemen Jalanan Papua Barat Ronald Mambieuw. (ANTARA/HANS ARNOLD KAPISA)

Papua, nusaraya.online –¬†Panglima parlemen jalanan (Parjal) provinsi Papua Barat Ronald Mambieuw mendorong upaya pelurusan sejarah 1 Mei di Tanah Papua oleh pemerintah, lembaga kultur dan elemen masyarakat dalam sebuah dialog.

Hal ini dikatakan Ronald Mambieuw menyikapi kontraversi 1 Mei di Tanah Papua dari dua belah pihak yang berbeda pandangan sejarah yang berdampak pada situasi keamanan wilayah dengan berbagai aksi protes.

“Perbedaan pandangan sejarah 1 Mei 1961 harus diakhiri dalam sebuah dialog konstruktif dan segera melahirkan kesepakatan antara kelompok masyarakat Papua dan Pemerintah,” ujar Mambieuw di Manokwari , Senin.

Dia mengatakan, bahwa dari sisi perjuangan kemerdekaan Indonesia, 1 Mei 1961 dikenal sebagai hari integrasi Irian Barat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sementara 1 Mei versi kelompok masyarakat Papua dikenal sebagai hari pemaksaan atau aneksasi Irian Barat ke dalam NKRI.

“Dialog konstruktif 1 Mei harus menengahi perdebatan panjang ini, sehingga tidak menimbulkan konflik sepanjang generasi Papua,” ujar Mambieuw.

Menurut dia, Ormas Parjal Papua Barat mendorong upaya dialog ini sebagai satu solusi menjaga kondusifitas wilayah Papua Barat dikemudian hari dari berbagai kegiatan yang tidak mendukung pembangunan di Papua Barat.

“Terima kasih karena 1 Mei 2022 ini Papua Barat tetap kondusif, tidak ada aksi-aksi yang mengganggu keamanan maupun kenyamanan masyarakat umum, semoga Pemerintah dan lembaga kultur dapat menjembatani penyelesaian kontraversi 1 Mei di tanah Papua,” kata Mambieuw.

Sumber: antaranews.com

Artikel Terkait

Leave a Comment