Ponpes Al Zaytun, Indramayu, Jawa Barat kembali menuai kontroversi usai tersebarnya Video yang menunjukkan pimpinan ponpes Al Zaytun Indramayu, Panji Gumilang mengucapkan salam yang tak biasa diucapkan dalam Islam. Tidak hanya sekedar diucapkan, pimpinan ponpes Al Zaytun Indramayu itu bahkan menyanyikan salam tersebut. Kontroversi Ponpes Al Zaytun itu ternyata bersangkut erat dengan doktrin ajaran, afiliasi kelembagaan, dan konsep keagamaan yang dipahaminya. Bahkan, beberapa pihak menilai pesantren ini sesat dan berbahaya. Ternyata, kontroversi Ponpes Al Zaytun ini bukan kali pertama terjadi. Lebih dari 20 tahun lampau, ponpes ini juga pernah menimbulkan polemik sehingga MUI menurunkan tim penelitinya.

Kondisi tersebut mendapatkan respon dari Pendiri II Crisis Center, Ken Setiawan yang mengatakan bahwa Pada 2002, tim dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama dengan Kementerian Agama (Kemenag) sudah melakukan investigasi dan penelitian terhadap Pondok Pesantren Al Zaytun di Indramayu, Jawa Barat. Adapun hasil dari penelitian MUI tersebut antara lain.

1. Ditemukan indikasi kuat adanya relasi dan afiliasi antara MAZ) dengan organisasi NII KW IX, baik hubungan yang bersifat historis, finansial, dan kepemimpinan.

2. Terdapat penyimpangan paham dan ajaran Islam yang dipraktikkan organisasi NII KW IX. Seperti mobilisasi dana yang mengatasnamanakan ajaran Islam yang diselewengkan, penafsiran ayat-ayat Alquran yang menyimpang dan mengafirkan kelompok di luar organisasi mereka.

3. Ditemukan adanya indikasi penyimpangan paham keagamaan dalam masalah zakat fitrah dan kurban yang diterapkan pimpinan MAZ, sebagaimana dimuat dalam majalah Al-Zaytun.

Dari hasil temuan penelitian MUI tersebut, Ken Setiawan berharap MUI dapat memberikan Fatwa karena sudah terlihat jelas bahwa Ponpes Al Zaytun memiliki kegiatan dan aktivitas yang terbilang ekskusif dan tertutup. Namun demikian pada saat itu MUI tidak memberikan tindak lanjut. Selain itu juga Kemenag RI sebagai leading di Ponpes juga tidak ada respon sampe beberapa kali ganti Menteri Agama ternyata tidak ada tindak lanjut dari masalah ini.

Kondisi tersebut, Ken Setiawan menilai seperti pembiaran yang tidak diperhatikan oleh Pemerintah. Oleh karena itu Ken Setiawan mendirikan Crisis Center karena tidak percaya oleh Pemerintah. Bahkan seperti kasus terorisme dibiarkan oleh Pemerintah, namun demikian justru pemahaman radikalisme yang di perhatikan bahkan ditangkap. Hal ini yang tidak akan berakhir sampai kapanpun.

Ponpes Alyatun sejatinya adalah kelompok makar, bukan hanya permasalahan salam melainkan banyak tafsir tafsir Alqur’an semaunya Ponpes Alyatun dilakukan. Kondisi tersebut dianggap hal biasa oleh Pemerintah, sehingga sangat berbahaya sekali bagi kehidupan umat beragama.

Artikel Terkait

Leave a Comment