Resonansi Kemerdekaan

by Redaksi
Resonansi Kemerdekaan

Melintasi catatan peristiwa, di tengah waktu yang saling bercengkerama, sudah tak berbilang kiranya kita menatap bendera Merah Putih sembari merenungi makna mendalam dari kemerdekaan. Sejarah selalu memberi petuah bahwa kemerdekaan ialah perjalanan tanpa akhir, sebuah narasi yang tak lepas dari keberanian, perubahan, dan adaptasi. Bukanlah puncak gunung yang sekali dijangkau, melainkan proses kontinu yang mengalir dalam darah peradaban. Namun, sambil melihat kembali jejak yang tertinggal, tak bisa dimungkiri bila Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto ialah satu dari banyak cahaya yang mengarahkan kita menuju arti sejati kemerdekaan. 

Melalui pidatonya yang membara hampir satu abad yang lampau, ia mengajarkan kemerdekaan tak sekadar bebas dari belenggu fisik, tetapi juga pemberdayaan batin. Pandangan itu menggemakan nilai-nilai yang kita tuntut hari ini, yakni kebebasan yang sesungguhnya ialah hak untuk menggapai potensi penuh sebagai individu dan sebagai komunitas. Tidak diragukan lagi, perubahan dalam konsep kemerdekaan telah menjadi respons atas gemuruh zaman yang terus berdentum. 

Konsep kemerdekaan ekonomi, yang kini menguat sebagai fondasi, membawa kita menuju era baru pemikiran. Pandangan inklusif Amartya Sen memotret panorama masa depan yang mengilhami: pembangunan ekonomi yang sejati harus merangkul setiap individu, tidak hanya dalam penghasilan, tapi juga dalam akses yang setara terhadap layanan pendidikan, perawatan kesehatan, dan perlindungan sosial. Kini, ekonomi tak hanya dilihat sebagai mesin untuk mencapai pertumbuhan, tetapi juga sebagai jembatan menuju kemerdekaan sejati yang dirasakan semua. 

Development as freedom menjadi mantra yang tak pernah lepas dari Sen, sembari juga memberikan syarat: jika kemerdekaan ialah komoditas, akankah sang penerima kemerdekaan berdaya untuk memanfaatkan kemerdekaan itu (Commodities and Capabilities). Di situ Sen menganalogikan, janganlah sebuah sepeda megah dan kuat diberikan kepada seorang dengan disabilitas. Apa pun itu, hulu tangkalnya hanya satu, yakni pendidikan. HOS Tjokroaminoto tentu tidak asal bikin konsep. Orasinya ialah buah dari pemikirannya yang matang, kontemplasi empiris dari apa yang telah dia persiapkan. Eksperimen ideologisnya sudah ia praktikkan di tepi sungai Kalimas Surabaya yang melahirkan tokoh-tokoh semisal Alimin, Muso, Sukarno, dan Kartosuwiryo. Variasi ideologi murid-muridnya serta peran penting tokoh-tokoh tersebut meski dengan ragam kontroversinya ialah magnum opus pendidikan yang memerdekakan ala Tjokroaminoto. 

Pembenahan pendidikan akan mampu meningkatkan produktivitas pekerja yang keadaannya sejak memasuki abad baru cenderung stagnan. Dengan pertumbuhan produktivitas buruh Indonesia yang lekat tanah (sekitar 3% setahun dan lebih rendah ketimbang inflasi), upah buruh Indonesia memang terhitung mahal sehingga memicu investment diversion. Walhasil, para pekerja tidak mampu menangkap hasil dari pembangunan secara utuh. Untuk lepas dari kungkungan sistemis itu, sebenarnya Acemoglu dan Robinson (2013) sudah mewanti-wanti untuk mengarahkan kepada ekonomi institusi yang inklusif (inclusive economic institutions) yang menciptakan insentif dan akses yang sama untuk masyarakat pada umumnya. 

Negara menjadi gagal jika hanya menyediakan akses dan kesempatan pada sekelompok elite. Dalam panggung hubungan global yang semakin menyatu, kita disaksikan gambaran dunia yang menjadi semacam jaringan neural global. Konsep narasi yang diperkenalkan Yuval Harari dalam Sapiens merepresentasikan ikatan batin di antara kita semua. Tidak ada perubahan yang berdiri sendiri; setiap keputusan dan tindakan memiliki dampak yang menyebar ke segala penjuru. Richard Baldwin dalam The Great Convergence menyoroti revolusi teknologi yang menghapus batasan, membuka kesempatan baru bagi siapa pun, tanpa pandang budaya atau lokasi geografis. 

Namun, dalam kilasan yang sama, Dani Rodrik memperingatkan kita tentang bayangan paradoks yang muncul dalam lingkup hubungan yang saling berkaitan, saat keterhubungan berdampingan dengan pengorbanan. Keberlanjutan kemerdekaan ekonomi tidak hanya tentang ketergantungan terhadap sistem global, tetapi juga tentang kebijakan yang berani untuk memelihara keseluruhan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah berdiri sebagai penjaga arah, membentuk landasan untuk pembangunan ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Namun, mereka juga harus bersikap tangguh dalam menghadapi tantangan tak terduga. Pandemi global covid-19 ialah pengingat nyata tentang kerentanan ekonomi terhadap gejolak global. Namun, kisah Indonesia yang berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi yang positif. Meski di tengah situasi sulit, memberikan inspirasi bahwa dengan ketekunan dan adaptasi, kita dapat memetik hasil positif. Namun, kita harus berhati-hati. 

Ketidakpastian dan dinamika global tidak pernah berhenti mengancam. Ancaman resesi dan inflasi global masih mengintai, siap untuk merusak fondasi ekonomi yang telah dibangun. Dalam melangkah maju, sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal tetap menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan ekonomi. Kita juga harus mencari keselarasan antara keterhubungan global dan kemandirian ekonomi. Ketergantungan yang berlebihan pada perekonomian global bisa berpotensi merusak ketahanan ekonomi lokal. Membangun kapabilitas dalam negeri dan menguatkan sektor-sektor strategis akan menjadi benteng utama dalam menghadapi goncangan global. Dalam merangkai semua paradoks ini, ada hikmah dari filsuf Descartes yang tak boleh kita lewatkan. 

Merangkul paradoks ialah langkah awal dalam merumuskan solusi. Kita harus melangkah tanpa ragu, membebaskan diri dari keraguan yang bisa menghambat kemajuan, dan mengambil langkah konkret menuju masa depan yang lebih terang. Mempertimbangkan periode bonus demografi, kita akan kehilangan momentum jika pemerintah masih memandang ini sebagai bisnis seperti biasa. Indonesia akan menjadi tua sebelum kaya. Yang artinya, kita tidak akan pernah bisa merdeka. Celah kesempatan kita cukup sempit, kali ini Sang Waktu mungkin tidak akan berbaik hati. 

Indonesia membawa harapan besar menuju kemerdekaan ekonomi sejati, melalui pendidikan yang mencakup semua lapisan, kebijakan ekonomi yang berwawasan nasional, dan investasi yang memberikan manfaat luas. Hanya dengan langkah nyata kita dapat membebaskan diri dari belenggu ketertinggalan dan membuka pintu menuju masa depan yang penuh potensi. Melalui kemerdekaan ekonomi yang berkelanjutan, Indonesia akan menjadi kekuatan yang tangguh dalam menghadapi dinamika global dan mewujudkan kemakmuran yang lebih baik untuk semua rakyatnya. 

Kemerdekaan memang selalu enigmatik, tapi ia akan selalu tunduk pada dogma pemberdayaan. Pemerintah dalam hal ini tidak bisa bekerja sendirian. Iya betul bahwa pelbagai intervensi kebijakan bisa langsung menyelesaikan permasalahan antarwaktu, tapi ia juga tidak lepas dari kolaborasi antaraktor pemegang estafet kemerdekaan, yaitu industri, kampus, dan komunitas sebagai bagian dari rakyat yang menikmati kemerdekaan. Bolehlah bauran kolaborasi berjalan beriringan sehingga mampu merespons hubungan geliat fenomena global dan domestik yang berjalan, laiknya organisme yang menyatu.

*) Fithra Faisal Hastiadi Dosen FEB UI

 

Artikel Terkait

Leave a Comment