Steve Mara Menyerukan All Eyes on Papua: Melihat Keberhasilan Pembangunan dan Keindahan Pariwisata Papua

by Redaksi

Media sosial saat ini sedang diramaikan dengan 2 tagar yang cukup menyita perhatian. Tagar pertama adalah #alleyesonrafah All Eyes on Rafah. Rafah adalah salah satu daerah di Palestina yang menjadi tempat pemukiman warga sipil Palestina. Daerah tersebut kemudian diserang oleh tantara Israel hingga menyebabkan banyak warga sipil menjadi korban jiwa.

Indonesia sebagai negara konsen dalam menciptakan Perdamaian dunia tentunya protes keras terkait adanya tindakan yang dilakukan oleh tantara Israel kepada warga sipil Palestina tidak berdosa. Munculnya tagar All eyes on Rafah adalah sebagai bentuk kepeduliaan warga negara Indonesia terhadap kondisi kemanusiaan di Rafah Palestina. Tagar tersebut dilakukan agar dapat menarik perhatian internasional untuk mendukung perdamaian di wilayah Palesina-Israel agar tidak ada lagi korban jiwa yang berjatuhan dan wilayah tersebut bisa segera menjadi wilayah damai.

Disisi lain, muncul juga tagar #alleyesonpapua All Eyes on Papua. Tagar ini muncul sesaat setelah tagar All eyes on Rafah, tagar ini ingin menegaskan bahwa selain peka untuk melihat konflik internasional, warga Indonesia juga dituntut untuk melihat situasi yang terjadi dalam negeri Indonesia yaitu situasi yang terjadi di Papua.

All Eyes on Papua muncul dengan mengangkat persoalan yang juga sempat viral di Indonesia tentang masyarakat Papua yang sedang berjuang menolak pembangunan perkebunan kelapa sawit diwilayahnya.

Masyarakat ada suku Awyu di boven Digoel, Papua Selatan dan Suku Moi di Sorong Papua Barat daya, saat ini sedang mengajukan gugatan hukum melawan perusahaan sawit demi mempertahankan eksistensi hutan adat mereka. Gugatan tersebut telah ditolak oleh peradilan pertama dan peradilan tingkat kedua, namun masyarakat adat suku Awyu dan Suku Moi melanjutkan gugatan mereka ke tingkatan Mahkamah Agung sebagai langkah hukum terakhir yang mereka tempuh.

Tagar All Eyes on Papua tersebut sangat menyita perhatian publik karena sudah dibagikan jutaan kali diberbagai platform media sosial. aksi ini disebutkan sebagai bentuk solidaritas masyarakat untuk mendukung hutan adat Papua karena hutan Papua adalah Paru-paru dunia dan menjadi salah satu hutan terluas di Asia Tenggara saat ini.

Namun demikian, Steve Mara menyayangkan tagar All Eyes on Papua dipelintir oleh beberapa pihak dengan menggunakan tagar tersebut untuk mengkampanyekan seakan-akan tidak ada pembangunan sama sekali yang dilakukan oleh pemerintah di Papua, Papua merupakan daerah tertinggal yang tidak memiliki sumber daya manusia yang siap untuk membangun masa depan Papua, bahkan ada juga yang menggunakan tagar tersebut untuk kepentingan politik organisasi menyerukan Papua untuk lepas dari Indoensia.

Menurut Steve Mara, All Eyes on Papua adalah momen yang bagus untuk kita bagikan informasi tentang keberhasilan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah di Papua. Setiap perkembangan kecil pembangunan di Papua yang dilakukan harus diapresiasi. Contohnya ikon Pekan olahraga nasional lalu yaitu stadium Papua bangkit, merupakan salah satu stadium terbaik di Asia Pasifik, atau pembangunan jalan trans Papua, pembangunan Gedung-gedung megah milik pemerintah, pembangunan jembatan penghubung yang mempermudah akses dan meningkatan ekonomi masyarakat, pembangunan pelabuhan dan bandara, pasar-pasar khusus untuk mama Papua, serta penggelontaran dana alokasi khusus Papua yang diberikan oleh pemeirntah pusat untuk pemerintah daerah di 6 Provinsi di Papua untuk program-program yang telah direncanakan.

Pelaksanaan program strategis nasional lainnya yang berhasil dilaksanakan di Papua seperti pembangunan Papua Youth Creative hub yang menjadi pusat incubator pembangunan sumber daya anak muda Papua, penyediaan lahan yang digunakan untuk penanaman padi dan jagung dengan jumlah ratusan ribu hektar. 

Selain itu, All Eyes on Papua juga harus menjadi momen untuk menunjukan sumber daya anak muda Papua yang semakin unggul seperti Jose Nerotouw anak SD yang jago dalam bidang Matematika hingga dapat menjadi dosen cilik dan mengajar Matematika Kalkulus di Universitas Cenderawasih dan bertemu Elon Mask di Bali, atau anak muda Papua lainnya yang sukses membawa nama Papua ke kancah internasional dengan berbagai prestasi yang dimilikinya.

All Eyes on Papua juga kita gunakan untuk mempromosikan Papua sebagai tanah yang damai, tanah yang menerima segala suku bangsa, agama, dan budaya yang berbeda. All Eyes on Papua kita gunakan untuk menunjukan potensi pariwisata yang kita miliki, contohnya Papua punya pulau Biak dan Serui yang tidak kalah akan potensi pariwisata, namun minim dalam pemberitaan sehingga turis lokal dan turis mancanegara belum banyak yang mengunjungi wilayah Papua ini. 

Raja Ampat dengan potensi wilayah pariwisata kelas dunia yang harus terus dipromosikan, selain itu juga adalah juga wilayah ekowisata di Pegunungan Arfak yang bisa viralkan, hal-hal ini akan menjadi baik untuk peningkatan ekonomi masyarakat dan pemasukan bagi pajak daerah untuk membangun Papua menjadi lebih baik, ketimbang fokus akan konflik dan narasi negatif yang dibangun untuk membuat orang Papua tidak berpikir maju untuk membangun Papua.

Gambar 1. Kepulauan Raja Ampat.

Gambar 2. Jembatan Merah, Jayapura.
Gambar 3. Stadiun Papua Bangkit
Gambar 4.  Kantor Gubernur Provinsi Papua

Gambar 5. Kantor Majelis Rakyat Papua
Gambar 6.  Perbatasan RI PNG

Gambar 7. Pelabuhan Jayapura
Gambar 8. Telaga Biru, Biak.

Artikel Terkait

Leave a Comment