Tumpas Habis KST Papua, Aparat Keamanan Kerahkan Alutsista Canggih

by Redaksi

Jayapura – Untuk menumpas habis KST Papua yang sangat keji ini memang perlu perhatian khusus, gabungan aparat keamanan TNI-Polri dan BIN telah berusaha semaksimal mungkin untuk meredakan tindakan brutal KST Papua, tak tanggung-tanggung dalam melenyapkan KST Papua mereka mengerahkan alutsista yang canggih agar segerombolan pengikut Egianus Kogoya tunduk dan dapat ditangkap serta diadili dengan seadil-adilnya.


Tak ada ampun bagi Kelompok Separatis Teroris (KST) Papua lagi kali ini, sudah banyak korban berjatuhan akibat dari tindakan mereka yang brutal ini. Mengenai penumpasan KST Papua, memang membutuhkan berbagai macam strategi, bahkan jika perlu langsung ditumpas dengan berbagai cara agar tidak membahayakan bagi yang lain. Pemerintah beserta dengan aparat keamanan, TNI-Polri-BIN tak berhenti bekerja sama untuk membasmi KST Papua.


Untuk membasmi KST Papua, aparat keamanan mengerahkan Alutsista yang canggih untuk menggempur KST Papua dan mengusut tuntas konflik ini supaya Tanah Bumi Cenderawasih aman, tentram, dan damai. Bahkan, sudah terlihat melalui unggahan salah satu video yang beredar memperlihatkan dua tank Panser yang dilengkapi dengan senjata canggih untuk memberantas habis KST Papua yang meresahkan. Dikabarkan tank Panser Anoa itu berjenis 6×6 APC (Armored Personel Carrier) milik TNI itu sudah mulai memasuki wilayah Papua Pegunungan dan sudah dipanaskan untuk membasmi KST Papua. Beberapa orang prajurit juga mulai terlihat bersiap mengisi ulang peluru dengan prajurit lainnya yang berjaga di belakang tank.


Mengenai hal ini, memang sebelumnya Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menyatakan dirinya turun tangan untuk mengirimkan bantuan, menambah jumlah personel ke Tanah Papua dan mengirimkan alutsista canggih kepada para prajurit dalam waktu dekat ini untuk memberantas kelompok Egianus Kogoya yang masih merajalela di Papua Pegunungan.
Pengerahan alutsista canggih ini memang pilihan yang tepat untuk menumpas KST Papua yang semakin brutal, bagaimana tidak sebelumnya mereka berulah kembali menyandera empat pekerja menara telekomunikasi atau Base Transceiver Station (BTS) Bakti Kominfo di Distrik Okbab, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua pada Jumat 12 Mei 2023 lalu. Pekerja tersebut berasal dari PT Inti Bangun Sejahtera.

Menurut keterangan dari Kabid Humas Polda Papua Kombes Ignatius Benny Ady Prabowo menjelaskan peristiwa tersebut terjadi ketika ada enam orang pekerja BTS berangkat dari Oksibil menuju Distrik Okbab dengan menggunakan pesawat Elang Air pada pukul 08.30 WIT. Namun, ketika tiba di Lapangan Terbang Okbab mereka para rombongan langsung ditodong oleh lima orang yang mengaku dirinya sebagai anggota KST Papua. Kabid Humas Polda Papua Kombes Ignatius Benny Ady Prabowo juga mengatakan bahwa kelompok brutal ini menggunakan senjata tajam seperti parang hingga melakukan kekerasan fisik kepada tiga orang pekerja.


Dari keenam orang, terdapat 2 orang yang dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Oksibil untuk mendapatkan perawatan medis lantaran mengalami luka-luka, salah satunya yakni Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Alverus Sanuari dan Benyamin Sembiring. Sementara itu empat orang lainnya disandera oleh KST Papua, dan dua lainnya dianiaya serta mengalami luka-luka. Empat korban tersebut diantaranya yakni, Asmar, Peas Kulka, Senus Lepitalem, dan Ferdy. Tidak hanya menyandera dan melakukan penganiayaan terhadap korban sandera, menurut keterangan saksi mata yang berada di Oksibil, KST Papua ini juga meminta tebusan berupa sejumlah uang yang jumlahnya besar, diketahui yakni mereka meminta uang sebesar Rp 500 juta untuk membebaskan korban. Syarat dan tuntutan itu sendiri menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang seperti aparat keamanan agar mengambil langkah yang cepat dan tepat untuk menangani situasi genting ini demi mengamankan keselamatan para sandera.


Meski begitu, menurut keterangan Benny, dalam langkah pembebasan korban pemerintah daerah, para tokoh agama, dan adat di Distrik Okbab ini juga terlibat dalam koordinasi sebagai upaya mediator dengan KST Papua, upaya negosiasi masih terus dilakukan untuk membebaskan sandera demi keselamatan semua pihak, namun jika memang upaya tersebut tak kunjung membuahkan hasil, memang harus ditindak tegas agar kebiadaban KST Papua ini terhenti dan tak semena-mena mempermainkan nyawa.


Perilaku KST Papua yang tak henti-hentinya menyebarkan teror kepada masyarakat ini memang harus ditumpas habis. Teror tersebut bermula dari rentetan peristiwa saat Pilot Susi Air Philip Mark Mehrtens diculik di wilayah Mugi-Mam, Kabupaten Nduga dan merembet ke penyerangan KST Papua terhadap prajurit TNI-Polri hingga mereka gugur saat bertugas. Tentu saja, rentetan tersebut menjadi bukti kuat kebiadaban KST Papua agar segera dieksekusi tanpa ampun karena sudah merugikan banyak pihak, terutama mengenai ketentraman dan kedamaian yang terganggu.


Untuk itu, aparat keamanan gabungan TNI-Polri dan BIN terus berusaha semaksimal mungkin untuk menumpas, memberantas habis KST Papua yang menjadi momok menakutkan masyarakat. Alutsista canggih yang dikerahkan untuk menggempur mereka adalah pilihan yang tepat agar Bumi Cendrawasih bisa damai, aman, dan tentram dari kelompok teror bersenjata itu.

Artikel Terkait

Leave a Comment