Dunia digital di musim kampanye Pilpres saat ini banyak dimunculkan informasi dan berita palsu atau lebih dikenal dengan istilah “hoax” oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggungjawab.

Jika tidak ada kehati-hatian, netizen pun dengan mudah termakan tipuan hoax tersebut bahkan ikut menyebarkan informasi palsu itu, tentunya akan sangat merugikan bagi pihak korban fitnah. Lalu bagaimana caranya agar tak terhasut?…saya memberikan tips-tips agar masyarakat tidak mudah dan rentan terprovokasi berita hoax.

Dari pengalaman tangani hoax pada umumnya penyebar berita hoax pasti gunakan judul provokatif  misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi atau potongan-potongan video, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax. Oleh karenanya, apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya Anda mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya Anda sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita tapi sudah dapat dipastikan berita hoax tidak memiliki alamat situs yang terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

Langkah yang praktis dapat kita lakukan ketiga adalah periksa fakta, coba perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat. Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh. Termasuk jika memiliki aplikasi cek keaslian foto atau video yang diproduksi hoax tersebut.

Dimasa Pilpres saat ini sangat banyak berita hoax terkait ke pemiluaan yang menonjol saat ini banyaknya berupa saling serang ya antar kubu-kubu yang berkontestasi. Jadi ini yang paling banyak memang saling serang ya antar kubu-kubu yang berkontestasi. Yang menyerang Pak Prabowo (Prabowo Subianto) ada, menyerang Pak Anies Baswedan itu juga ada, yang menyerang Pak Ganjar (Ganjar Pranowo) juga ada. Selain bentuk hoaks saling serang antar-kubu, hoaks yang bertujuan mendelegitimasi penyelenggaraan pemilu juga perlu diwaspadai yang bertujuan untuk mendelegitimasi penyelenggaraan Pemilu 2024.

*) Arif Muai (Pegiat Media Sosial)

Artikel Terkait

Leave a Comment