program paradox Papua

Waspada! Pendeta Kembali Berpolitik Usung Tokoh OPM untuk Dijadikan Konten Youtube

by Redaksi
program paradox Papua

nusaraya.online – Sebuah program di kanal Youtube Kalam Kristus Channel yang juga disiarkan oleh Mambruk_Channel bertajuk Paradox Papua sedang menjadi buah bibir di sejumlah kalangan publik berkaitan dengan tokoh-tokkoh sekaligus pernyataan kontroversial yang dihadirkan. Program yang dibawakan oleh Bishop Dr. Joshua Tewuh tersebut dalam salah satu episodenya membahas berkaitan dengan tokoh separatis yang dalam kisah Mahabarata disebutnya sebagai sengkuni bangsa Papua, yakni Saul Y Bomay. Paradox Papua sendiri dalam keterangan di running text video tersebut disebut sebagai salah satu program sekaligus ruang diskusi demokrasi yang diklaim terbuka untuk semua kalangan tanpa pandang bulu. Sebuah permainan kata untuk menghindari justifikasi dan subjektifitas dari program yang melibatkan tokoh bermasalah.

Sejenak kembali menyusuri jejak salah satu tokoh TPNPB OPM. Saul Y Bomay merupakan seorang mantan tahanan/ narapidana politik di Papua yang lebih sering memperkenalkan diri sebagai juru bicara TPNPB OPM. Posisinya yang bisa dianggap lebih senior dalam pergerakan kemerdekaan Papua, hingga kini disebut aktif berada di belakang layar untuk mempengaruhi masyarakat dalam upaya melepaskan diri dari negara Indonesia dengan isu HAM maupun janji manis utopis kemerdekaan suatu wilayah. Secara posisi, sosok Saul Y Bomay bukanlah tokoh perang hutan seperti Egianus Kogoya, Goliath Tabuni, ataupun Numbuk Telenggen. Jika dalam pemberitaan di media selalu tertulis nama Juru bicara TPNPB OPM adalah Sebby Sambom, namun kemunculan Saul Y Bomay yang juga mengaku sebagai juru bicara justru jarang menunjukkan eksistensinya sebagaimana posisi juru bicara yang biasanya melekat dengan pernyataan di media. Entah karena suatu alasan tertentu, permasalahan internal, atau klaim sepihak, Saul Y Bomay lebih sering bermanuver ke dalam melalui komunikasi internal dalam upaya mempengaruhi orang-orang di sekitar untuk mendukung pemikirannya dengan tujuan panjang merealisasikan kemerdekaan Papua dari negara Indonesia.

Bermodal Kata-kata Berupaya Perluas Isu Papua

Sejumlah manuver yang pernah dilakukan Saul Y Bomay hanya bermodalkan pada pesan singkat dan obrolan dalam komunikasi udara. Salah satu sebab pernah mencuatnya isu kedatangan Dewan HAM PBB ke Indonesia tahun lalu ialah buah kasak-kusuknya kepada para anggota TPNPB OPM serta tokoh-tokoh yang ia kenal sehingga hampir dalam kurun waktu tersebut, kelompok pro kemerdekaan Papua sibuk mempersiapkan kedatangan Dewan HAM PBB dengan kegiatan deklarasi tim maupun penggalangan dana pembuatan atribut penyambutan.

Dalam beberapa kesempatan, Saul selalu mengklaim bahwa tim PBB telah datang ke Papua, kepada para anggota agar mempersiapkan diri untuk menyambut, namun hingga kini kenyataannya tidak terbukti. Adanya isu tersebut sempat memprovokasi sebagian masyarakat Papua yang menaruh harapan besar bahwa kehadiran PBB ke Papua adalah jalan terang bagi kemajuan Papua, padahal kepentingan Saul Y Bomay adalah melanggengkan opininya agar Papua lepas dari Indonesia dengan memanfaatkan isu aktual sehingga masyakarakat akan lebih melirik dan memperhatikan.

Manuver tersebut dengan sendirinya kemudian terbantahkan melalui pernyataan dari Direktur HAM dan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Achsanul Habib yang menegaskan bahwa tidak ada agenda atau bahasan mengenai Indonesia di sesi ke-49 Sidang Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB. Tidak pula ada permintaan atau rencana kunjungan dari PBB ke Papua, sebab Dewan HAM PBB menyerahkan sepenuhnya peraturan kepada pemerintah Indonesia. Adapun adanya undangan peninjauan pembangunan dan pencapaian SDG’s di Papua dan Papua Barat tidak terkait dengan kerangka investigasi. Sebelumnya, Komisaris Tinggi PBB untuk HAM (OHCHR) menerima laporan dari organisasi non pemerintah mengenai situasi HAM di Papua dan Papua Barat. Pemerintah Indonesia pun telah melayangkan surat ke Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PPB melalui Special Procedures Mandate Holders (SPMH) mengenai klarifikasi dan penjelasan terkait hal tersebut.

Dibalik Aksi Penolakan DOB dan Tumpangan Isu Kemerdekaan Papua

Salah satu respon negatif muncul mengatasnamakan TPNPB OPM saat kebijakan pemekaran wilayah yang disebut Daerah Otonom Baru (DOB) menjadi isu aktual yang pernah diperbincangkan di publik Papua dan sekitarnya. Sebby Sambom sebagai juru bicara TPNPB OPM saat itu kemudian melayangkan ancaman kepada oknum-oknum bupati yang akan mengurus DOB. Ia mengancam akan membunuh para bupati yang pro dengan rencana pemekaran wilayah di sejumlah daerah di Papua. Di sisi lain, Saul Y Bomay yang juga mengklaim diri juru bicara TPNPB OPM seperti biasa tidak muncul di media, namun bergerilya menyusup dalam pergerakan secara tertutup berkonsolidasi dengan organisasi atau kelompok lain untuk menyuarakan penolakan serta mendukung adanya aksi demonstrasi di jalan.

Tak lupa dalam aksi tersebut, ia menitipkan pesan perjuangan kemerdekaan sebagai salah satu poin tuntutan. Saul Y Bomay bahkan pernah mengklaim bahwa aksinya juga akan digelar di Manokwari, Jawa dan Bali serta didukung beberapa negara di dunia. Ia sadar, dengan modal kewibawaan serta kesenioritasannya mampu mempengaruhi sebagian besar anggotanya yang mungkin tidak memiliki pengetahuan yang lebih tinggi darinya serta memiliki sikap militan dalam setiap kegiatan atau aksi yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah ataupun menyinggung kemerdekaan. Di benak mereka, mungkin ketika lepas dari Indonesia Papua akan lebih maju dari sebelumnya, padahal kenyataannya tidak demikian. Timor leste adalah bukti nyata.  

Mengatasnamakan Masyarakat Papua untuk Kepentingan Pribadi

Dalam sebuah kesempatan, Saul Y Bomay juga memiliki inisiatif mengobarkan semangat para anggotanya untuk mengaktifkan kegiatan militer karena menurutnya upaya kemerdekaan harus ditempuh dengan cara berperang bukan dengan diplomasi. Secara sepihak, dirinya juga pernah membuat isu mengabarkan bahwa orang Papua tidak boleh datang ke Jakarta untuk membahas permasalahan di daerahnya. Saat merespon adanya penembakan terhadap pekerja tower telekomunikasi di Beoga tahun 2022 lalu, Saul juga membuat klaim dan isu dengan meyakinkan kepada orang-orang terdekatnya bahwa korban penembakan adalah anggota TN,I bukan pekerja perusahaan.

Saul Y Bomay adalah salah satu tokoh yang getol menyuarakan adanya intervensi pihak ketiga dalam rencana dialog membahas permasalahan Papua dengan pemerintah Indonesia. Ia selalu bermanuver membuat propaganda mengatasnamakan perjuangan rakyat Papua. Selain itu, di sesama pejuang kemerdekaan Papua, ia juga pernah membuat pernyataan bahwa ULMWP sedang menipu rakyat West Papua demi kepentingannya, sementara TPNPB-OPM adalah pemegang amanat rakyat West Papua yang adil dan benar.

Sebuah pertanda kelemahan bagi para pihak yang pro kemerdekaan, dimana kemerdekaan ternyata bukan hal yang diperjuangkan secara kolektif, namun sesuai kepentingan masing-masing. Meskipun kita paham bahwa sebab musabab perang antar negara di dunia berakar pada motif ekonomi sebagai hal mendasar yang disamarkan. Kondisi yang terjadi di bumi cenderawasih ini juga harus kita waspadai bahwa motif politik juga berintrik untuk mencapai tujuannya dimana pada akhirnya masyarakat Papua yang menjadi korbannya, salah satunya melalui Sengkuni dari timur bernama Saul Y Bomay.

Motif Bishop Dr. Joshua Tewuh Tampilkan Program Paradox Papua

Selain karena pihak yang dihadirkan memiliki muatan kontroversif sekaligus provokatif, perlu kiranya untuk juga diketahui siapa orang yang mengemas program tersebut beserta dengan latar belakang dan motif yang ingin dicapai. Seperti kita tahu bahwa isu separatisme di Papua merupakan hal yang sensitif, mayoritas pihak tidak mau mengangkat karena penuh dengan resiko. Namun, berbeda dengan Bishop Joshua Tewuh yang hingga edisi ke-36 masih mengelola program Paradox Papua melalui kanal Youtube bahkan menghadirkan tokoh separatis yang jelas-jelas bermasalah.

Berdasarkan sejumlah informasi yang berhasil dihimpun, Bishop Joshua Tewuh merupakan orang Manado yang besar di Makassar. Dirinya memiliki profesi sebagai seorang pendeta (apologate/kristolog). Pekerjaan inilah yang membuatnya sekaligus menjadi konten creator digital melalui Yayasan Efata Marturia yang dimilikinya. Yayasan ini menyediakan Pelayanan Konsultasi Psikis-Sosiologis dan Pelatihan Pengembangan SDM di Perusahaan-Perusahaan Milik Orang Kristen atau yang karyawannya mayoritas kristen. Memberi Pelatihan ESQ BIBLICAL-CONCEPT secara profesional baik secara perseorangan, keluarga dan Gereja serta Perusahaan. Ia memiliki jemaat yang diberi nama Jemaat Tuhan Yesus Kristus. Namun pada perjalanannya, Joshua Tewuh justru kemudian mengundurkan diri dari Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) karena diduga sesat tidak bisa menerima ajaran Tritunggal Pribadi independent (Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus) yang dijadikan sebagai bagian pengukuhan iman GBI. Dirinya diketahui hanya mempercayai satu pribadi Allah saja dengan 3 cara penampakan yang dituduh sebagai penganut bidat/ ajaran sesat kekristenan sabelian atau hanya mempercayai Jesus Only.

Berkaitan dengan konten video yang ia unggah diketahui bahwa sebagian besar bertema debat tentang agama. Diindikasi motif yang ingin ia tuju ketika mengunggah sejumlah konten berkaitan dengan Papua adalah demi diferensiasi produk, atau keinginan untuk melebarkan audiens agar lebih banyak viewers. Namun strateginya melibatkan para tokoh separatis adalah kesalahan besar yang tidak dipikirkan mengenai dampak yang akan terjadi. Sebagai seorang pendeta, tidak semestinya dirinya memprovokasi publik atau berpolitik untuk kepentingan tertenu. Jangan sampai, model Socratez Yoman yang lebih dulu menyatakan dukungan kepada kelompok separatis akan diteruskan oleh sang pembuat konten provokatif ini. Memanfaatkan ketegangan publik demi viewers konten.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment